Kopi Tiam Ong
Senja itu, langit kota Paris kelabu.
Tak tampak guratan sinar-sinar jingga senja yang melukis langit abadi saat itu.
Seusai kuliah, kami memisahkan diri dari rombongan lain untuk menuju sebuah
warung kopi. Ini karena aku yang terlalu tertarik dengan nuansa dan penataan
arsitektur bergaya tempo dulu di warung itu. Sehari sebelumnya, aku memang
sudah melewati warung kopi itu, nampak
jadul, seperti warung kopi cina. Dari luar tampak lampion merah tergantung-gantung.
Menarik, dan aku bertujuan untuk mengunjunginya. Esoknya, kuajak salah satu
temanku yang enak diajak jalan-mengeluarkan hasrat jadi gembel. Walau duit
cekak, dan harus berhemat, tapi kalau untuk mencoba sesuatu hal yang baru, duit
cekak bukan jadi masalah dan halangan besar. Sore itu, kami berjalan menyusuri
jalanan yang ramai dengan senyuman mengembang. Entah apa yang dibicarakan,
entah apa yang difikirkan, aku merasa bahagia. Yah, karena jalan-jalan. Dengan
siapapun itu, aku akan merasa bahagia, kalau sudah merasa nyaman dengan
suasana. Kota Paris saat itu hampir musim gugur, jaket tebal dan hangat
melindungi tubuh kami dari dinginnya udara kala itu.
Sesampainya didepan Warung kopi itu,
kami terpaku, terdiam sejenak, saling memandang.
“Yakin
kan mau masuk??” tanyaku ragu, sambil melirik tulisan ‘Coffie Tiam Ong’
“Yaudah
masuk aja, toh kita udah sampe. Tapi kira-kira mahal nggak ya??” pandangannya
nanar melihat tulisan itu.
“Nggak
lah, udaah yuk masuk, dingin diluar” ujarku sambil mengeluarkan kepalan tangan
yang kusembunyikan dikantong jaket, dan menariknya masuk.
Terasa
suasana gothic. Yang kemarin kukira lampion merah , ternyata sarang burung
persis seperti punya kakek dulu yang dibalut dengan kain merah. Sedikit
mencekam sih, tapi unik, sangkar burung bisa dijadikan kap lampu. Dipilar-pilat
dindingnya, banyak barang-barang tua yang dipajang. Mulai dari radio zaman
baholak, kipas, sampe coffie maker antik pun dipajang disana. Mejanya kayu
berlapis marmer berbentuk bulat, dengan 4 kursi yang mengelilinginya. Kami
memliih duduk dipaling ujung, dekat dengan majalah. Dimeja itu terdapat lilin
aroma theraphy kecil, kacang Ong, dan sebuah informasi bacaan tentang kopi
luak. Pertama kali masuk ke Coffie Ong, yang menarik selain sangkar burung yang
mirip damentor itu adalah majalah National Geograpic. Awalnya, aku berharap ada
majalah travel, tapi ternyata nggak ada. Hanya beberapa buku usang yang masih
terawat,atau buku-buku sejarah. Ini pengalaman kami yang pertama untuk ngopi di
Coffie Ong. Bahkan untuk memilih menu yang disediakan pelayan kami masih
meraba, ini enak atau enggak. Jadi kami memutuskan untuk membeli secangkir kopi
ong, secangkir kopi tubruk, pisang karamel, dan pancake. Daaaan Cacaaam
*kejutaaan. Mataku nanar melihat makanan yang tersaji diatas marmer coklat itu.
Nampak lezat, dan siap dilahap. Ku bubuhkan 2 saset gula putih kedalam kupi Ong
yang hitam itu. Ku aduk perlahat, dan kucicipi. Cairan itu menyentuh lindahku
kuat. PAHIT. Perasaanku berbalik 180 derajat. Aku lupa ini kopi, bukan Cappucino
yang biasa ku minum. Perasaan langsung berubah, lidahku langsung keriput
menerima rasa pahit itu. Ku lihat dia, sedikit nyinyir dengan kopi tubruknya,
atau asik sendiri dengan pancake-nya. Dilihatnya, mukaku bersemu kecut
mencicipi kopi ong yang pahit ini, bahkan ini lebih parah dari kopo uwak-uwak
di Indonesia.
“Pahit
banget, nih coba cicip deh” mendorong cangkirku kearahnya. Dengan sigap
siambilnya sendok kecil itu dan diseruputnya.
“Hem
tambahin gula laah, yah namanya kopi ya gini rasanya, bukan kayak cappucino
yang sering kamu minum. Nih cobain punya ku” didekatkannya cangkir itu. Kilat
ku sendok kopi itu, dan langsung ku susrup.
“Pelan-pelan,
kan masih panas” nasehatnya.
“Gak
panas lagi kok, emm ini lebih enak dari pada punya ku, pahitnya gak ketulungan,
lebih parah dari pada jamu sambiroto” omelku pelan.
“Makanlah
pisang karamelnya, ini juga enak loh pan cakenya, cobain lah, nih ada coklat”
kami sibuk dengan yang terhidang dimeja. Tapi sebenarnya aku sendiri strees
memikirkan kopi ong yang ku pesan. Seketika perutku melilit nggak nahan,
tiba-tiba mual. Pisang goreng karamel yang cuman 2 buah pun cuman habis
setengahnya. Melihat coklat cair itu, aku mulai menggila dengan eksperimen.
Kumasukkan coklat itu kedalam kopi ong yang masih utuh, kucampurkan perlahan
dengan harapan akan enak diminum. Kopi ini terlalu keras untuk anak muda.
“Eeh,,
eh,, jangan gila lah, nanti gak terminum loh, kamu pelan-pelan aja minumnya
tapi jangan dicampurkan semua gitu, namanya juga kopi yah pahit lah” mulutnya
ngecipris persis mama.
“Iyaa,
enggak semua kok” sahutku gak semangat. Kupegang erat tangkai cangkir itu, dan
kususrup dua kali.
“Heh,
pelan-pelan minumnya, kan panas looh” katanya.
“Enggak
panas lagi kok, emm yang ini udah lumayan enak, cicip deh” kali ini senyumku
lebih sumringah. Disendoknya dan diembusnya pelan.
“Ngapain
diembus-embus kan gak panas” kataku geli.
“Ooh
gak panas lagi yaa” ujarnya sambil tertawa lirih.
“Heem,,
iya enakkan ini” katanya lagi. Aku merasa mual dengan makanan ini, sudah tidak
sanggup menghabiskannya lagi. Jadi dia yang menghabiskannya. Kemudian aku
membuka majalah National Geograpic, yang kebetulan meliput tentang Jogja.
Beberapa menit aku diam, dan terfokus pada bacaan itu. Sangat menginspirasi.
Diluar, salju mulai turun perlahan, indah sekali. Pertemanan kami, menurut
versi ku menyenangkan. Kami sama-sama sudah mempunyai pacar yang baik, dan
saling mengerti. Pacarku, bukan orang yang rame, dia seorang yang pendiam, dan
mandiri. Tidak suka keluar rumah, tidak suka perjalanan, tidak suka menggila,
tidak suka mencoba sesuatu yang baru dan hemat. Hal itu sungguh sangat
berbanding terbalik dengan kebiasaanku. Jumpa dengannya setidaknya hanya sekali
seminggu. Walaupun apartemen kami dekat, tapi waktu kami tidak sama dan tidak
memungkinkan untuk berjumpa. Sedangkan pacarnya adalah temanku juga. Dia gadis
yang baik, dan cantik menurutku. Menurut analisaku, dia bukanlah orang yang
suka travel, tapi dia adalah gadis yang ceria, dan lucu.
Obrolan sore itu, lenyap seperti
salju yang meleleh. Kami pulang dan memisahkan diri. Aku dijalanku, dan dia
dijalannya. Sepanjang jalan aku, bersendawa. Perutku kembung. Mual sekali karna
kopi itu. Minggu depan, dia kembali mengajakku ke Coffie Tiam Ong lagi.
Penasaran katanya. Hari itu, berakhir dengan secangkir kopi.
Ke-esokan harinya aku bangun
terlambat. Jam menunjukkan pukul 8. 30. Mataku terbelalak. Dan baru sadar kalau
ini hari libur. Aku bangkit dari tempat tidurku, dan membuka horden apartemen.
Bayangan yang ada dalam imajinasiku adalah pemandangan taman yang ditutupi
salju. Sesaat sesudah ku buka kain beludru coklat itu, kelopak mataku menyempit
terkena silauan sinar matahari. Langit tampak cerah, biru bersih tanpa ada awan-awan
yang beriringan. Indah sekali.
“Yeeee,,,
Musim Semi, akhirnya” , aku loncat-loncat kegirangan. Secangkir kopi Ong
kemarin rupanya menjadi penutup musim dingin kala itu.
-Dyah
Retno Fitriani-



Komentar
Posting Komentar